Gambar Berita

Pemuka Agama Bali Alami Ketidaknyamanan saat Ibadah di Candi Cetho Karanganyar

Citra pariwisata Kabupaten Karanganyar tercoreng menyusul adanya insiden yang membuat tidak nyaman wisatawan saat beribadah di kawasan Candi Cetho, Kecamatan Jenawi. Peristiwa tersebut memicu sorotan terhadap standar pelayanan wisata religi di daerah itu. Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga atau Disparpora Karanganyar bergerak cepat merespons kejadian tersebut dengan menyiapkan langkah pembenahan Standard Operating Procedure (SOP) pelayanan di destinasi wisata, khususnya kawasan religi. Kepala Disparpora Karanganyar, Yoppi Eko Jati Wibowo, menyayangkan adanya insiden yang membuat wisatawan religi tidak nyaman tersebut. Dari laporan yang dia terima, insiden itu dialami wisatawan yang merupakan salah satu pemuka agama dari Ubud, Bali. Pemuda agama itu tengah melakukan ibadah di Candi Cetho, beberapa hari lalu. "Jadi ada oknum yang penawaran suvenir kepada tamu yang tengah menjalankan ritual ibadah, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan dinilai tidak sesuai etika pelayanan wisata religi," kata Yoppi kepada Espos, Jumat (10/4/2026). Menurutnya, praktik menawarkan suvenir saat pengunjung beribadah dinilai kurang tepat. Kondisi ini tentu bisa mencoreng citra pariwisata Karanganyar. Apalagi kini posisi kunjungan wisata Karanganyar tengah jatuh di peringkat ke-25 se-Jawa Tengah. Peringkat ini terjun bebas dari sebelumnya di mana Karanganyar sempat menduduki peringkat pertama pada 2024. Menurut Yoppi, kejadian tersebut menjadi evaluasi penting bagi pengelolaan destinasi wisata religi di Karanganyar. Ia menegaskan pembenahan akan dilakukan melalui pendekatan edukasi kepada pelaku wisata, bukan dengan tindakan penggantian petugas di lapangan. "Kami merasa tertampar sekali. Apalagi yang menerima insiden ini merupakan pemuka agama di Bali yang sedang ibadah di sini," kata Yoppi. Pemahaman SOP Wisata Religi Yoppi mengatakan segera turun lapangan untuk melakukan pembinaan kepada pelaku wisata agar pelayanan kepada wisatawan, khususnya umat Hindu, dapat berjalan lebih baik dan sesuai etika layanan wisata religi. Intinya, ia ingin membenahi pelayanan agar wisatawan, terutama umat Hindu yang beribadah, merasa lebih nyaman. Menurutnya, pembenahan tidak dilakukan dengan mengganti pelaku usaha atau petugas di lapangan, melainkan melalui edukasi dan peningkatan pemahaman mengenai SOP pelayanan wisata religi. “Pesan beliau ke kami jangan diganti, jangan dipecat. Jadi bukan mengganti, tapi mengedukasi pelan-pelan. Karena latar belakang pendidikan dan pengalaman itu berbeda-beda,” jelasnya. Yoppi mengaku mendapat masukan dari tokoh agama Hindu terkait pentingnya penerapan SOP dalam pelayanan wisata religi. Salah satunya berkaitan dengan tata cara pendampingan umat saat beribadah di kawasan suci. Ia mencontohkan masih ditemukan petugas atau pemandu yang belum memahami ketentuan berpakaian maupun etika saat mendampingi kegiatan ibadah, sehingga dinilai kurang sesuai dengan standar pelayanan wisata religi. “Contohnya saat mendampingi umat Hindu beribadah, seharusnya mengikuti aturan yang berlaku. Itu yang perlu dibenahi agar tidak terjadi kesalahpahaman,” katanya. Yoppi menegaskan pembenahan ini penting dilakukan agar citra pariwisata Karanganyar, khususnya destinasi wisata religi seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh, tetap terjaga dengan baik. Disparpora Karanganyar juga berencana melibatkan pelaku wisata untuk mengikuti pembelajaran langsung di daerah lain yang telah memiliki sistem pengelolaan wisata religi yang lebih mapan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan di Karanganyar. “Kalau ada anggaran, pelaku wisata akan kami ajak belajar langsung ke daerah lain agar mereka bisa melihat praktik terbaik di lapangan,” katanya.

Diupload pada 2025-05-27 18:46:23

← Kembali ke Daftar Berita